Toxic Masculinity dan Emphasized Femininity

Norma gender adalah harapan kolektif dan sering tidak setara tentang bagaimana perempuan dan laki-laki harus berperilaku, merasakan, berpikir dan berinteraksi. Norma gender masih sangat kental di kalangan masyarakat khususnya di Indonesia bukan hanya kalangan dewasa namun kalangan remaja pun masih  memberlakukan ketimpangan gender. Seperti halnya yang ditemukan dalam penelitian GEAS (Global Early Adolescent Study) yang dilakukan di 6 sekolah di Bandar Lampung menunjukkan bahwa  62% remaja setuju bahwa laki-laki yang seharusnya menghasilkan uang untuk kebutuhan rumah tangga, sedangkan 57% setuju bahwa peran seorang perempuan adalah mengurus rumah dan keluarga. Melihat hasil data tersebut dapat kita lihat bahwa masih banyak peran-peran yang seharusnya bisa dilakukan oleh laki-laki dan perempuan justru ditunjukkan oleh satu golongan atau satu jenis kelamin.  Norma gender juga tidak lepas dari toxic masculinity dan emphasized femininity. Apa sih itu Toxic masculinity dan emphasized femininity Yuk kita bahas dibawah ini!

Toxic Masculinity dan Emphasized Femininity

Maskulinitas dapat diartikan sebagai sebuah konstruksi sosial yang berisikan harapan-harapan dan juga tuntutan-tuntutan bagaimana laki-laki harus bersikap. Meskipun sebetulnya sikap maskulinitas bisa juga ditampilkan oleh perempuan.  kontruksi maskulinitas tidak hanya untuk laki-laki untuk menjadi individu yang tangguh dan kuat Tetapi dia juga mengkonstruksikan feminitas sebagai sesuatu yang berlawanan dengan maskulinitas. Sehingga kalau laki-laki diharuskan menjadi kuat maka perempuan diharapkan untuk tampil lemah-lembut. Dari penjelasan diatas konstruksi maskulinitas sangat berpotensi untuk menjadi Toxic masculinity.

Toxic masculinity adalah perilaku sempit terkait peran gender dan sifat laki-laki.Dalam Toxic masculinity di biasanya lekat dengan tuntutan sifat laki-laki identik dengan kekerasan agresif secara seksual dan tidak boleh menunjukkan emosi. tidak jauh dari Toxic masculinity emphasized femininity pun demikian yang menjelaskan bahwa standar yang dianggap normal oleh masyarakat mengenai apa yang harus dimiliki dan dilakukan perempuan. Stigma-stigma yang menjatuhkan perempuan dan seringkali membuat orang-orang menghakimi sosok yang tidak bisa memenuhi ekspektasi feminim seseorang.

Ada beberapa ciri-ciri dari Toxic masculinity. Ciri-ciri tersebut adalah sebagai berikut :

  1. Menahan emosi atau tidak mengekspresikan emosi.
  2. Menunjukkan penampilan yang terlihat seperti gagah atau kuat
  3. Kekerasan sebagai indikator dari kekuatan laki-laki.

Bila dilihat lebih lanjut, Toxic masculinity ini ternyata tidak terbentuk secara tiba-tiba. Seorang laki-laki dari kecil cenderung dituntut untuk tidak menampilkan emosinya. Ungkapan seperti anak laki-laki tidak boleh cengeng anak laki-laki harus kuat dan tangguh seringkali membuat mereka dengan tanpa sadar merasa bahwa menangis akan membuatnya menjadi lemah. padahal dari sudut pandang psikologi ekspresi emosi adalah sebuah langkah untuk mencapai kesehatan mental.

Dampak dari konstruksi gender ini lebih lanjut dapat mengakibatkan pelecehan yang dilakukan laki-laki ke perempuan, kekerasan seksual dan masih banyak lagi lain.  Jadi mulai saat ini mari kita  kampanyekan untuk tidak melakukan toxic masculinity dan emphasized femininity. 


REFERENSI

Global Early Adolescent Study (GEAS), Kesehatan Remaja Awal di Kota Bandar Lampung, Yogyakarta : UGM, 2020.

Rutgers WPF Indonesia, Modul Setara (Semangat Dunia Remaja), Jakarta : Rutgers WFH Indonesia.

Leave A Reply