PERNIKAHAN USIA ANAK

Anak merupakan suatu aset bagi suatu bangsa. Sayangnya di Indonesia banyak anak yang disia-siakan. Banyak anak yang tidak terpenuhi hak-haknya. Banyak anak yang putus sekolah bahkan mencari kerja atau bahkan rela menikah di usia anak. Di Indonesia menurut UNICEF saat ini merupakan salah satu negara dengan jumlah perkawinan anak usia dini tertinggi di dunia dengan menempati urutan ke-8 dengan sekitar 1.459.000 anak di Indonesia dipaksa menjalani perkawinan. Banyak faktor yang menyebabkan itu semua. Oleh karena itu yuk kita bahas mengenai perkawinan anak.

Siapa yang Dimaksud Anak?

Definisi anak sangatlah beragam. Meskipun menurut undang-undang Republik Indonesia nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak secara jelas mendefinisikan anak sebagai seseorang yang belum berusia 18 tahun termasuk anak yang masih dalam kandungan,” Akan tetapi dalam konteks negara Indonesia yang memiliki suku budaya dan agama yang beragam seringkali terjadi perdebatan dalam mendefinisikan siapa sebetulnya yang disebut dengan anak itu. Di beberapa masyarakat adat seperti masyarakat Baduy misalnya anak adalah setiap orang yang belum mengalami pubertas.Definisi yang sama juga dianut oleh agama Islam misalnya yang menganggap bahwa anak adalah individu yang belum melalui pubertas. Pendapat tentang si anak seringkali menjadi hambatan ketika kita berupaya menghentikan perkawinan usia anak.

Meskipun terdapat banyak perbedaan mengenai definisi anak sebagai sebuah negara yang mengacu kepada aturan perundang-undangan yang ada maka jelas bahwa anak adalah setiap orang yang belum berusia 18 tahun.

Perkawinan Anak

Perkawinan anak merupakan perkawinan yang dilakukan dibawah umur yang diatur Undang-Undang yaitu 18tahun. Perkawinan anak dapat membatasi hak-hak anak terhadap pendidikan, kesehatan, keselamatan dan hak hak lainnya. Perkawinan anak sebagai sebuah ancaman terhadap pemenuhan hak anak melihat dari prinsip perlindungan dan partisipasi anak yang tidak terpenuhi.  

Perkawinan anak biasanya terjadi bukan karena kemauan sang anak melainkan keinginan orang dewasa.  Kemauan dari orang dewasa ini membuat hak anak untuk menyatakan pendapat dan keinginannya tidak terpenuhi. Dikarenakan mereka tidak diberi kesempatan untuk mengambil keputusan tentang perkawinannya. Dimana dari perkawinan ini dapat menimbulkan banyak risiko.

Risiko Perkawinan Anak

  1. Anak terutama anak perempuan yang melakukan Pernikahan di usia anak memiliki risiko kesehatan tinggi. Contohnya dalam kehamilan yang dialami perempuan di umur dibawah 18 tahun memiliki risiko yang besar tubuh belum siap menerima janin yang berkembang di dalam dirinya. Kematian yang terjadi pada saat kehamilan dan melahirkan disinyalir merupakan salah satu penyebab tertinggi kematian anak perempuan berusia 15 sampai 19 tahun di seluruh dunia.
  2. Perkawinan anak sangat rentan terhadap tindak kekerasan dalam rumah tangga (KDRT)
  3. Perkawinan anak juga dapat menyebabkan tingginya angka kemiskinan dan rendahnya tingkat pendidikan anak.

Sangat mengkhawatirkan bukan risiko yang ditimbulkan dari pernikahan usia anak. Diatas merupakan 3 dari banyaknya risiko yang dapat dialami oleh anak yang melakukan pernikahan usia anak. Namun kebanyakan orang luput dari hal-hal diatas. Kebanyakan orang mengesampingan risiko-risiko yang akan muncul karena beberapa faktor penyebab perkawinan anak.

Penyebab Perkawinan Usia Anak

Ada beberapa hal yang menyebabkan terjadinya perkawinan usia anak, antara lain sebagai berikut :

1.Rendahnya Tingkat Pendidikan

Pendidikan merupakan hal yang sangat penting bagi anak. Pendidikan pula merupakan salah satu hak yang harus didapatkan oleh anak. Namun banyak terjadi perkawinan anak dilakukan atas dasar anak yang sudah tidak bersekolah atau memilih untuk menikah  daripada melanjutkan pendidikan. Pendidikan yang tidak terpenuhi anak pula membentuk pola pikir anak untuk menyegerakan menikah. Dimana anak menganggap menikah adalah perbuatan yang sakral dan menyenangkan.

2.Kemiskinan

Masalah ekonomi juga menjadi penyebab lain terjadinya perkawinan anak. Contohnya banyak orang tua yang ekonominya rendah menikahkan anaknya kepada orang lain dengan harapan anaknya bisa memperbaiki perekonomian keluarga. Mereka beranggapan bahwa menikah adalah cara terbaik untuk mendukung kelangsungan hidup si anak dan keluarga selanjutnya.

3.Norma Sosial dan Budaya

Konstruksi gender dan bagaimana perempuan dipandang masyarakat juga merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya perkawinan anak. Banyak anggapan bahwa anak perempuan harus disegerakan menikah karena agar cepat memenuhi perannya sebagai ibu dan istri. Salah satu produk dari sosial budaya adalah adanya undang-undang perkawinan yang berlaku saat ini yang bertolak belakang dengan undang-undang perlindungan anak. UU perkawinan menyebutkan bahwa persetujuan orang tua dapat diajukan untuk mendukung semua perkawinan dibawah usia 21 tahun. Pasal ini menyebabkan banyaknya anak melangsungkan pernikahan atas dasar persetujuan yang diajukan orang tua.

4.Menjaga Kehormatan Keluarga

Perkawinan seringkali dikehendaki oleh orangtua dan juga anak karena hubungan seksual dan kehamilan. Pandangan negatif tentang perempuan dewasa yang tidak menikah, kekhawatiran terhadap kehamilan dan juga pengenalan sek pranikah pula menjadi penyebab perkawinan anak usia dini.


Global Early Adolescent Study (GEAS), Kesehatan Remaja Awal di Kota Bandar Lampung, Yogyakarta : UGM, 2020.

Rutgers WPF Indonesia, Modul Setara (Semangat Dunia Remaja), Jakarta : Rutgers WFH Indonesia.

Leave A Reply