Kekerasan Berbasis Seksual dan Gender

Sudah banyak terjadi dan sudah banyak kita dengar bahkan kita lihat langsung di depan mata kepala kita tindak kekerasan yang terjadi di sekeliling kita bahkan tindak kekerasan itu terjadi kepada orang-orang terdekat kita. sangat disayangkan tindak kekerasan makin hari makin meningkat kasusnya. Berbagai jenis tindak kekerasan terjadi mulai dari kekerasan dalam pacaran, perundungan dan kekerasan berbasis seksual dan gender. Setelah kita membahas kekerasan dalam pacaran dan perundungan. Saat ini kita akan membahas lebih dalam terkait kekerasan berbasis seksual dan gender. Mulai dari definisi, penyebab kekerasan berbasis seksual dan gender dan faktor penghambat pelaporan kasus kekerasan berbasis seksual dan gender.

DEFINISI KEKERASAN BERBASIS SEKSUAL DAN GENDER

Menurut United Nations High Commissioner for Refugees (n.a.), Kekerasan berbasis seksual dan gender adalah segala bentuk kekerasan yang dilakukan kepada seseorang karena latar belakang jenis kelamin, gender dan seksualitas orang tersebut dan biasanya terjadi karena ketidakseimbangan relasi kuasa. Kekerasan berbasis seksual dan gender bisa berupa kekerasan yang sifatnya fisik, emosional, psikologis dan seksual. Kekerasan berbasis seksual juga sering meniadakan hak seseorang terhadap sebuah layanan akses atau sumber daya tertentu.

Dengan kata lain kekerasan berbasis seksual dan gender adalah bentuk kekerasan yang memandang jenis kelamin dan gender seseorang dan seksualitasnya, yang menyerang fisiknya emosionalnya psikologis dan seksualitasnya. Di mana perasaan ini dapat terjadi pada siapapun baik perempuan atau laki-laki muda atau dewasa. Perasaan ini biasanya terjadi karena ketidakseimbangan relasi kuasa antara pelaku dan korban. Banyak penyebab-penyebab timbulnya kekerasan berbasis akrual dan gender seperti dibawah ini.

PENYEBAB KEKERASAN BERBASIS SEKSUAL DAN GENDER

Jika dilihat dari perilaku tindak kekerasan ada banyak faktor penyebab yang melatarbelakangi timbulnya kekerasan berbasis seksual dan gender, namun diantara banyak faktor ada tiga faktor yang sering timbul dan menyebabkan kekerasan berbasis seksual dan gender ini antara lain adalah sebagai berikut : 

  • Relasi kuasa yang tidak seimbang antara pelaku dan korban, Sebagaimana kita lihat pembahasan sebelumnya relasi kuasa yang tidak seimbang antar pelaku dan korban masih menjadi penyebab yang besar sehingga terjadinya kekerasan berbasis seksual dan gender ini. Tidak seimbangan relasi kuasa ini bisa terjadi karena gender, contohnya lelaki yang dianggap lebih kuat dari perempuan mengakibatkan banyak perempuan yang menjadi korban kekerasan oleh anak laki-laki atau anak laki-laki yang berbeda ekspresi gender nya akan banyak menjadi korban kekerasan berbasis seksual dan gender. Selanjutnya relasi kuasa terhadap usia, dimana biasanya orang dewasa akan melakukan tindak kekerasan terhadap anak atau orang yang usianya di bawah pelaku tindak kekerasan tersebut. Kemudian relasi kuasa pada status sosial antara atasan dan bawahan. Lalu etnis tas juga menjadi faktor terjadinya kekerasan berbasis seksual dan gender,  di mana biasanya kelompok etnis mayoritas yang memiliki kuasa lebih akan melakukan tindak terhadap etnis minoritas.
  • Budaya patriarki yang masih kuat di masyarakat, Budaya patriarki menempatkan perempuan dan anak pada posisi yang rendah sehingga mereka rentan untuk dieksploitasi.  Pada budaya patriarki ini biasanya perempuan dan anak harus mengikuti keinginan dari laki-laki dan orang dewasa. Misalnya pernikahan diusia anak dimana anak seringkali menikah karena keinginan orang tua. Budaya ini juga terkadang menormalkan kekerasan terhadap perempuan misalnya sunat perempuan dan biasanya juga budaya ini menormalkan kekerasan yang dilakukan oleh oleh laki-laki dan Budaya ini menciptakan hegemonic maskulinitas di mana anak laki-laki yang tidak cukup maskulin menjadi korban dari kekerasan berbasis seksual dan gender.
  • Faktor-faktor sosial, banyak pula faktor sosial yang membuat kekerasan berbasis seksual dan gender ini semakin marak terjadi misalnya kemiskinan peperangan dan kondisi kondisi lain yang membuat kekerasan ini terjadi.

PENGHAMBAT PELAPORAN KASUS KEKERASAN BERBASIS SEKSUAL DAN GENDER

Kita semua setuju dan percaya bahwa tindak kekerasan ini tidak baik dan harus ditindaklanjuti. Namun ada beberapa hal yang membuat kekerasan berbasis seksual dan gender ini sulit untuk melaporkan dan kasusnya hilang begitu saja. Ada banyak hambatan-hambatan yang muncul ketika kita ingin menindaklanjuti kasus kekerasan berbasis seksual dan gender faktor tersebut antara lain :

  • Takut akan stigma dan diskriminasi, Seseorang yang menjadi korban contohnya korban pemerkosaan seringkali dipandang sebagai orang yang kotor. Ia seringkali masih disalahkan atas apa yang telah dialaminya.
  • Takut dibalas, Banyak korban kekerasan yang malah diintimidasi oleh para pelaku ancaman-ancaman yang diberikan oleh keluarga pelaku, teman pelaku membuat korban biasanya takut untuk melapor kepada kepolisian atau melaporkan kepada orang-orang yang dipercaya korban dan kebanyakan korban memilih untuk diam.
  • Dipersalahkan, Masyarakat masih sering menyalahkan korban tindak kekerasan berbasis seksual dan gender. masyarakat terkadang malah sibuk menuruti apa yang digunakan korban contohnya pakaian yang memancing hasrat atau kelakuan-kelakuan korban yang mengundang pelaku untuk melakukan tindak kekerasan. Padahal tindak kekerasan adalah tindakan yang dilakukan murni atas dasar pemikiran si pelaku bukan atas dasar apa yang dilakukan korban atau apa yang dipakai oleh korban.
  • Takut tidak dipercaya, Tindak kekerasan biasanya terjadi karena relasi kuasa yang tidak seimbang maka biasanya korban adalah orang yang lemah di mana terkadang pengakuan korban terhadap tindakan kekerasan dianggap bohong atau tidak dipercaya oleh masyarakat atau orang disekelilingnya.  Contohnya anak-anak yang telah menjadi korban tindak kekerasan melaporkan kejadian yang telah dialaminya malah dianggap sebagai laporan yang main-main atau karena ia dianggap masih anak-anak.  Karena alasan ini banyak korban yang memilih untuk diam karena mereka beranggapan sudah cerita pun tidak dipercaya.
  • Pihak berwajib yang tidak efektif, Ketika laporan sudah diberikan biasanya pihak berwajib tidak banyak berbuat terhadap pelaku atau beberapa oknum dari pihak berwajib malah menyudutkan korban. Padahal ketika pelaku tidak penjarakan atau tidak ditangkap oleh pihak berwajib bisa jadi korban malah dalam situasi yang lebih membahayakan.
  • Sikap tenaga kesehatan, Seseorang yang mengalami kekerasan seksual dapat pulih dari trauma mereka ketika mereka tahu ada pihak yang mengakui apa yang mereka alami dan memberi dukungan. Namun, banyak dari kita menemukan penyedia layanan kesehatan tidak selalu memahami dan mendukung ketika ada seseorang korban yang sedang mencari bantuan. Mereka seringkali menghakimi atau memandang sinis korban. Inilah alasan yang menyebabkan para korban kekerasan seksual hanya akan mencari bantuan praktis untuk kesehatan mereka tetapi tidak menceritakan kekerasan yang mereka alami yang membuat mereka harus datang pelayanan kesehatan.

Sangat memprihatinkan bukan terkait kekerasan berbasis seksual dan gender ini bukan hanya kekerasannya yang berdampak besar pada korban tetapi juga ketika korban telah berani melaporkan kejadian kekerasan yang dialaminya masih saja korban malah mendapatkan perlakuan perlakuan yang merugikan korban lagi. Oleh karena itu mari kita lawan tindak kekerasan ini, bukan hanya korban saja tapi semua pihak harus ikut andil dalam memberantas tindak kekerasan.


REFERENSI

Global Early Adolescent Study (GEAS), Kesehatan Remaja Awal di Kota Bandar Lampung, Yogyakarta : UGM, 2020.

Rutgers WPF Indonesia, Modul Setara (Semangat Dunia Remaja), Jakarta : Rutgers WFH Indonesia.

Leave A Reply